[Cerpen] “Hijrahku, Hidayahku”

Hijrahku, Hidayahku

Pengarang : Putri Setyaningtyas

 
 

Berawal dari sebuah paksaan dan ketaatan. Paksaan yang membuat diri menjadi tak bardaya, taat digunakan saat bertentangan dengan hati kita. Yah, aku akan menjalani hidup ku dengan sebuah keterpaksaan di dalam penjara suci ini. Entah apa yang akan terjadi pada ku kelak, dengan hati yang begitu berat, namun ketaatan yang membawaku ke gerbang hijau itu.

Sebuah gedung berwarna hijau menjulang tinggi dedepan mata ku. Terlihat begitu sepi dan menakutkan. Sebuah penjara yang akan menampungku selama tiga tahun ini. Air mata ku tak tertahan, hati ini serasa sulit menerimanya. Aku hanya bisa pasrah dan tak akan pernah tau apa yang akan terjadi esok.

Memasuki sebuah tempat yang teramat asing bagi ku, bersama orang-orang yang akan mengintai ku.. aku siap!

*************

Di pojok ruangan terdapat seorang yang tengah menanti sebuah hasil wawancara PPDB itu, raut wajahnya terlihat begitu tegang.

“Ibu diminta menemui mereka.” Sapa ku, memecah keheningan suasana saat itu.

Ibu ku bergegas menemui orang tersebut, rasanya ada sesuatu yang aneh. Aku rasa hidupku selama bersamanya biasa saja dan aku menjawab pertanyaan–pertanyaan nya dengan tegas dan jujur. Namun mengapa raut wajahnya begitu pahit pada ku, sehingga ibu ku harus menemuinya?

Beberapa lama kemudian, seorang yang telah mengajukan beberapa pertanyaan tadi memanggilku kembali bersama ibuku. Ia mengajak ku duduk bersama dengan ibu. Ku lihat wajah ibu, berbeda dari yang aku lihat sebelumnya. Entah apa yang ia katakan pada ibu, hingga ibu terlihat begitu sedih saat itu.

“Tya, tadi ibu guru sudah menceritakan semuanya dengan ibu kamu, kalau kamu tengah memiliki pacar. Dan persyaratan untuk di terima di sekolah ini yakni, tidak boleh memiliki hubungan dengan lawan jenis termasuk pacaran. Dan saat ini harapan ibu Tya, beliau sangat menginginkan kamu di terima di SMA ini. Jadi apabila ingin di terima di sekolah ini, kami dari pihak sekolah memberikan persyaratan kepada Tya untuk memutuskan pacar dan wajib tinggal di asrama.” Ujar guru itu dengan tegas nya.

Ketika mendengar keputusan itu, sepertinya air mata ku mulai tak tertahan. Teringat pada janji-janji dahulu, selalu bersama. Aku bingung bagaimana cara menjelaskannya padanya, karena ini akan menjadi pukulan berat dalam hidup. Aku tak mampu mengungkapkan perasaanku saat ini, aku berada pada dua jalan yang berbeda. Semenjak ayah meningal dan kakak ku tengah menikah, harapan ibu satu-satu nya adalah aku. Dan disaat aku merasa kesepian dalam menjalani hidup ini, dia selalu ada untuk ku. Menemani di setiap hari-hariku dengan canda dan tawa. Hingga akhirnya kini aku harus memilih antara dia dan ibu.

Ku coba menlontarkan harapan ku pada ibu, memilih sekolah lain. Segala cara telah ku lakukan, namun ibu tetap pada keputusannya. Kini tak ada harapan lain, aku harus memutuskan satu jalan untuk menentukan tujuan akhir hidup ku.

“Bintang, maafkan aku.. memang ini jalan yang harus aku tempuh, aku harus mengikuti pilihan ibu untuk bersekolah di asrama. Mungkin ini akan menjadi pukulan berat bagi kita. Namun, yakinlah Bintang.. jika suatu saat nanti kita berjodoh, pasti kita akan bertemu. Entah bagaimana Allah mempertemukan kita..”

Dengan segala beban ku relakan ia pergi, demi ibu. Meninggalkan kota kelahiran dan berpisah dengan ibu adalah sesuatu yang jarang ku lakukkan, namun tetap ku coba untuk berdiri tegak. Kulangkahkan kaki menuju gerbang itu, menandakan dimulainya langkah hidup baru. Namun aku masih bertanya-tanya pada diriku, mengapa ibu bersikukuh memasukkan ku di asrama ini. Akankah ibu tak sayang lagi dengan ku?

Hari pertama di asrama pun ku jalani dengan berbagai serangkaian acara mulai dari mendengarkan tausiyah, motivasi, dan sarasehan. Banyak hal yang tak dapat ku pahami disini, aku bingung.. mengapa kalimat yang mereka ungkapkan selalu di ulang-ulang dan membuatku semakin terngiang. Apa maksud mereka melakukan hal ini?

“Tet..tet..tet..” Bel pun berbunyi, semua penghuni penjara suci itu bergegas menuju masjid. Seperti sebuah bom yang akan meledak setiap saat. Aku hanya bisa mengikuti apa yang mereka lakukan dan selalu bertanya-tanya dalam diri. Berkumpul, duduk, dan mendengarkan adalah aktivitas rutin ku disana. Seperti sebuah peluru masuk dalam diri ku, menembus hati yang keras ini. Sakit yang kurasa ketika mendengar ceramah mereka membuat ku semakin tak betah disini.

“Santri-santri ku.. di dalam Qur’an Surat Al-Anfal ayat 2, Allah berfirman Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” Ceramah ustadz dengan nada khasnya yang tegas. Apa yang mereka ungkapkan seperti sebuah sindiran padaku.

Aku semakin bimbang disini, aku berjalan tanpa arah dan hanya mengikuti mereka hingga batas waktu ku selesai di penjara suci ini. Hidup ku semakin resah, banyak pengintai ku disini. Setiap kali aku mencoba keluar dari sini dan mencari kebebasan diluar sana, aku selalu tertangkap basah. Dan akhirnya aku harus menerima hukuman dan mendapatkan sebuah peluru lagi. Sebuah pesan yang selalu di ulang-ulang, hingga cukup lelah aku mendengarnya.

“Tya, ingatkah kamu.. Allah telah berfirman di dalam Qur’an Surat Ali-Imran ayat 196 dan 197, Allah telah memperingatkan kepada kita janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat tinggal.”

“Tya, apa harapan hidup kamu di dunia ini? Kita hidup di dunia ini hanyalah sementara Tya, Allah menciptakan kita agar kuta “Tatafakkarun” berfikir.. Berfikir atas ciptaan Allah, berfikir mengapa kita diciptakan, dan berfikir untuk apa kita hidup. Hidup itu seperti mengumpulkan sebuah poin. Dimana kita harus berlomba-lomba mengumpulkan poin untuk memenangkan akhirat. Banyak godaan di dunia sehingga terkadang manusia lengah dan lupa dengan poin yang harus mereka kumpulkan. Kita bisa mengumpulkan poin itu dengan mengikuti sebuah panduan, panduan yang telah di tinggalkan oleh nabi Muhammad, yakni dua perkara Qur’an dan Sunnah. Mengikuti panduan yang tidak akan sesat apabila kita berpegang teguh pada kedua nya sambil menunggu waktu yang telah ditentukan. Hingga tiba saat nya kita harus mengumpulkan dan melaporkan poin yang telah kita peroleh. Di akhiri pada pelabuhan yang sama yakni akhirat, hanya jalan yang kita tempuh berbeda-beda. Hidup itu nikmat dan nikmat itu harus kita manfaatkan. Tapi tetap ingat nikmat dunia tanpa mninggalkan akhirat seperti yang telah tertera dalam Qur’an Surat Al-Qashash ayat 77.” Jelas nasihat Ustadz pada ku.

Kali ini peluru itupun tepat sasaran, hati ini hancur luluh dengan firman Nya. Maha Benar Allah dengan segala firmannya. Kini aku sadar mengapa mereka selalu mengulang-ulang ayat itu, karena dari sesuatu yang kita dengar terus menerus sedikit-demi sedikit akan mempengaruhi mindset kita. Sekeras apapun batu, jika terkena air terus menerus maka ia akan hancur. Seperti hati ini, sekeras apapun hati ini.. lama kelamaan akan luluh bersamaan kebenaran melalui firman Nya. Sekarang aku mengerti mengapa ibu memaksa ku untuk masuk di penjara ini, berawal dari sebuah paksaan maka akan bertemu dengan sebuah hidayah.

Jika aku harus menuruti hawa napsu ku, maka aku akan senang, namun kini aku lebih takut pada Allah. Aku hanyalah sebutir  pasir yang tak terlihat yang tak ada apa-apanya.

“Sesuatu memiliki waktu, sesuatu itu akan indah dengan sendirinya.. tak perlu kau tunggu.. hanya perlu kau jalani hidupmu. Semua akan berjalan seperti air.”

Satu kalimat yang selalu aku ingat ketika hijrah ku dahulu.. “Taat digunakan saat bertentangan dengan hati kita”  saat Bertentangan dengan Hati kita..

—-||||||—-

 

Biodata Pengarang

Nama Penulis : Putri Setyaningtyas
Tempat, Tanggal Lahir : Sukoharjo, 3 Juni 1995
Prodi : Pend. Anak Usia Dini (PAUD)
Alamat : Gedangan RT 06 / RW 01 Gedangan, Grogol, Sukoharjo
E-mail : putri.setyaningtyas@student.uns.ac.id

SKI PGSD/PGPAUD UNS

SKI PGSD/PG PAUD merupakan sebuah organisasi tingkat wilayah yang bergerak dalam kegiatan keislaman. Bertempat di kampus IV Kleco, Surakarta. Memiliki pertanggungjawaban kepada SKI FKIP yang bertempat di Kampus Pusat Kentingan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com