[Cerpen] Cinta Tak Perlu Pengorbanan

Cinta Tak Perlu Pengorbanan

Pengarang : Risa Rii Leon

cinta tak perlu pengorbanan

saat kau merasa berkorban

saat cintamu mulai pudar

sudah berkali lereng merapi

kelok berkelok seperti sunyi

dari nadimu berulang kali

bahwa cinta

bahwa denyut, kekasih

dan detak

debur berdebur

tak butuh pengorbanan mu

itu kembang kempis dijantungku ketika pijar

laksana lahar

hidangan senja tanpa garpu tala

kala perjamuan jinga langitmu

kau nyanyikan kecamuk merapi

hanya sampai malioboro

utara

ke selatan

dari para jenazah berpayung ketapang

berpaling pulang

berkesudahan

kesedihan ternyata lebih menyedihkan dari ranggas cemara desember

kau meleleh

meluluh

kala kafan bertanya ke lopak mawar

parangtritis berkorban untuk siapa

angkringan pun tanya ke pompong

jazirah bersorban sejak kapankah

aku meleleh meluluh

kuleleh eskrim padamu menjadi sajak

dari kawah merapi yang menggigilkan rindu

menggagalkan lupa

semoga tanpa kurasa telah ku korban kini

tenaga

waktu

dan air mata

-sujiwo tejo-

 

 

            Tamparan tanpa rupa tangan. Petir tak bermendung yang hadir tanpa tanda sebelumnya. Seperti itulah saat saya menyadari betapa sesungguhnya dalam cinta tak perlu pengorbanan. Karena saat kamu mulai merasa berkorban saat itulah cintamu mulai pudar. Kicauan seorang Sujiwo Tejo yang menyentil nalarku. Nalar yang sempat tertutup sepi.

^O^

            Saya jatuh cinta pada sebuah jalan. Jalan sepi dan penuh rintang. Jalan liku sebuah beranda ramai berkah milik sebuah rumah menuju Jannah.Nya. Saya resmi jatuh cinta pada pijakan pertama. Dan sayapun sama seperti manusia pada umumnya yang sedang kasmaran. Berusaha selalu memberikan yang terbaik untuk apa yang saya cintai.

            Dan cinta meminta semuanya yang aku miliki. Bukan hanya melintas di benak, namun mengendap dan terus berlarian menyusuri relung relung memori hingga terbawa sampai hati. Peluhpun tak sungkan mengucur dan raga menolak menyerah pada terjalnya lereng dakwah.

^O^

            Ketika kita mencintai, kita akan berusaha membahagiakan dia yang dicinta. Membuat senyumnya terus merekah. Membuat hatinya sedamai surga. Dan saat dia mulai mengabaikan hal hal itu. Saat dia tak melakukan hal yang sama untuk kita. Saat ternyata tak ada respon sesuai harap dari yang tercinta, terbesitlah kalimat, “Aku telah berkorban banyak, namun mengapa aku merasa berkorban sendiri? Kenapa tak ada respon serupa?”

            Sungguh saya tak pernah mengeluhkan segala apa yang saya berikan dalam jalan ini. Tak juga mau menghitung segala lelah dalam langkah, hanya saja bertanya. Kemana perginya insan insan itu? Kemana mereka yang mengaku menyeru pada sebuah kebenaran? Masih terdamparkah dalam danau lena? Atau terjebak di hutan futur? Atau lebih parahnya menutup diri dengan kesibukan duniawi? Dimana kalian yang mengaku beriman? Masihkah tak peduli pada mereka yang menyimpang dan butuh uluran tangan kasih? Ku mohon temani saya di sini. Dijalan yang kita yakini sejak awal. Jalan yang membuat kita bertemu dan saling menyapa karena.Nya.

^O^

            Ditengah sepertiga malam saat suara hati terdengar kasat mata. Suara pengorbanan itu makin menggema. Seolah ada kata keharusan yang mewakili keterpaksaan dibalik ‘pengorbanan’. Harus dibalas dan harus diperlakukan serupa. Seperti keharusan yang mematikan. Jika tidak kau akan mati. Mati termakan sepinya nurani. Sepinya jalan tanpa pejuang. Mati dan terkubur waktu tanpa pernah ada yang menguburkan dengan tanah merah bertabur doa. Miris.

            Dan masih di malam yang sama. Di ujung sepertiga malam yang kian renta. Suara lain pun nampak jernih terdengar.

            “Namun apa yang dikorbankan ketika sejatinya kamu melakukannya atas dasar cinta? Apa yang dikorbankan jika hatimu tulus menerima? Apa yang dikorbankan ketika kamu melangkah dengan tawa? Apa yang dikorbankan jika kamu memang bahagia? Apa yang dikorbankan ketika nyata hatimu penuh rela? Tak ada bukan? Karena mencintai itu soal keikhlasan.  Ketulusanmu untuk tetap memberi meski tak pernah menerima. Kerelaanmu atas semua yang ia beri meski nampak tak pernah mengulurkan tangan. Semuanya tanpa kecuali.”

            Di pangkal pagi nalar tersadar. Betapa benar bahwa mencintai tidak hanya soal saling. Tidak juga mengenai keharusan bersama. Mencintai itu ikhlas. Ikhlas dengan apa dan bagaimana cinta itu. Mencintai itu ada. Untuk ada setia saat. Dimanapun, kapanpun. Dan bodoh ketika saya berharap harus ada balasan untuk setiap yang saya lakukan dijalan ini. Tak perlu berharap sekalipun itu hanya sebuah kehadiran dari sesama rekan pejuang, ketika ajakan dibalas pengabaian. J

            Di pangkal pagipun sepi berikrar. Dalam sepuluh barisan jalan ini, pastikan sepi termasuk di dalamnya. Jika ada lima insan yang lolos seleksi alam oleh ulah ketidakstabilan iman, pastikan sepi tegak berpijak pada keyakinan awal. Dan jika hanya tertinggal satu orang yang berdiri penuh peluh namun mata nampak berbinar, pastilah itu saya. Berdiri, menolak putus asa. Enggan tunduk pada sepi. Terlebih untuk menyerah pada ketidakstabilan iman. Karena dalam pijakan itu, ada sebuah nama yang tak ada alasan untuk tidak diperjuangkan. Sebuah nama yang membawa terangnya surya ditengah gulita ilmu. J Islam.

            Islam. Cinta pertama yang menumbuhkan saya. Menumbuhkan jaman agar tak lagi bodoh. Menumbuhkan manusia agar tak lagi tersesat. Menumbuhkan alam agar tetap bersahabat. Juga cinta terakhir yang akan melengkapi saya agar dapat pulang dengan khotimah. Dan cinta terakhir yang menyediakan sebuah beranda teduh bernama dakwah.

^O^

            Dalam hidup ini harus ada yang datang dan pergi, agar paham makna singgah dan menetap. Di hidup ini harus ada yang tinggal dan menghilang, agar paham bahwa yang terbaik pasti akan tetap tinggal tanpa pernah menghilang, kecuali jika Allah SWT mengajarkan arti kehilangan. Dan pada akhirnya kita akan mengerti bahwa dalam cinta tak ada pengorbanan yang ada hanya hanya pengabdian dan ketulusan juga keikhlasan. J Mari kita sebut segala peluh itu. Segala kesah itu. Segala rintik mata itu. Segala nafas itu sebagai pengabdian fisabilillah JJ

* Karena dalam cinta tak ada kata pengorbanan, yang ada hanya ketulusan yang terwujud dalam sebuah pengabdian berlandas iman*

—-|||||—-

 

Biodata Pengarang

Nama Penulis : PRisa Rii Leon memiliki nama asli Narisa Haryanti
Tempat, Tanggal Lahir : Kebumen, 24 Maret 1993
Prodi : Pend. Anak Usia Dini (PAUD)
Alamat : Asrama PGSD FKIP UNS, Jalan Slamet Riyadi 449, Kleco
E-mail chi_tiramisucoklat24@yahoo.co.id
Facebook http://www.facebook.com/risa.rii.leon
E-mail : @RisaRiiLeon
E-mail : jejak-risa.blogspot.com

 

SKI PGSD/PGPAUD UNS

SKI PGSD/PG PAUD merupakan sebuah organisasi tingkat wilayah yang bergerak dalam kegiatan keislaman. Bertempat di kampus IV Kleco, Surakarta. Memiliki pertanggungjawaban kepada SKI FKIP yang bertempat di Kampus Pusat Kentingan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com