Berani dalam Berhijrah

Oleh : Soufi Dianimdri 2C PGSD 2015 (Juara I Lomba Esai M2B)
Sering sekali kita mendengar kata hijrah. Hijrah dalam bahasa Arab berarti meninggalkan, menjauhkan diri, dan berpindah tempat. Hijrah terbagi menjadi dua, yakni hijrah maknawiyah dan hijrah makaniyah. Hijrah Makaniyah ialah berpindah secara fisik, dari satu tempat ke tempat lain sebagaimana yang telah dilakukan Rasulullah saw saat berpindah dari Mekkah menuju Yastrib (Madinah). Sedangkan hijrah maknawiyah berarti berpindah secara nilai yaitu adanya peningkatan kualitas dari dalam diri seseorang. Seiring berjalannya waktu, hijrah lebih banyak diartikan sebagai proses perubahan seseorang untuk menjadi lebih baik. Dalam berhijrah begitu banyak tantangan yang harus dihadapi sehingga dalam perjalanannya, banyak orang-orang yang terhenti langkahnya kemudian memilih kembali pada masa jahiliyahnya karena tidak mampu melewati ujian dalam berhijrah. Salah satu sikap yang harus dimiliki seorang muslim yang ingin sukses dalam berhijrah adalah “berani”.
Berani untuk memulai
Memulai merupakan awal yang paling berat bagi siapapun. Dalam konteks hijrah, memulai adalah bagian paling paling pertama dan utama. Sebagai perumpamaan, memulai hijrah ibarat mesin dalam mobil. Jika mesin tidak pernah dihidupkan, mustahil ia dapat berjalan dan menempuh perjalanan. Maka, kunci pertama dalam berhijrah adalah berani memulainya. Konsekuensi yang didapatkan dari memulai sebuah perjalanan adalah seseorang harus rela meninggalkan tempat semula, demi menuju tempat lainnya. Berani memulai hijrah berarti berani untuk meninggalkan dan menanggalkan satu per satu kebiasaan buruk. Seseorang harus rela untuk meninggalkan zona nyamannya dan menghadapi tantangan-tantangan baru di hadapannya. Namun, upaya tersebut tiadalah sebanding dengan balasan yang diberikan Allah untuk hamba-hamba yang berhijrah di jalanNya, yaitu salah satunya termaktub dalam QS At-Taubah ayat 20 :
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”
Terbukanya kota Mekkah adalah keberkahan dari hijrah. Seandainya Rasulullah saw. tidak pernah memulai melakukan perjalanan meninggalkan Mekkah menuju Madinah tentulah islam tidak akan menjadi kekuatan besar yang menyebarkan rahmat bagi sekalian alam. Islam pada masa tersebut tidak hanya berkembang di jazirah Arab melainkan meluas hingga melampaui Persia dan Romawi.
Berani Dicaci, Bersikap Ketika Dipuji
Keberanian selanjutnya dalam berhijrah ialah berani untuk dicaci. Dalam perjalanan hijrah seseorang, pasti akan didapati banyak cercaan atau kritik pedas yang menimpa dirinya. Akan banyak sekali komentar-komentar negatif terkait “perubahan” yang terjadi pada diri seseorang pasca hijrahnya. Sebagaimana Rasulullah saw. mengalami masa-masa dimana beliau dilempar dengan kotoran manusia, dihujani dengan batu kerikil, dan masih begitu banyak perlakuan-perlakuan keji dari kaum-kaum yang mengingkari ajarannya. Orang lain mungkin akan terus mencerca, menganggap seseorang tidak pernah pantas untuk menjadi lebih baik, menganggap bahwa hijrah tidak sesuai dengan jalan hidupnya. Maka sikapilah dengan baik, dan jadilah pribadi yang pemaaf. Biarlah hanya Allah yang mengetahui kebaikan kita dan teruskanlah hijrah serta tegakkanlah Din-Nya
“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf: 199)
Ketika kita sudah mampu untuk menerima cercaan maupun kritik, belajarlah pula untuk menyikapi pujian. Seringkali pujian yang datang justru melenakan dan berpotensi menumbuhkan kesombongan. Begitu berbahayanya sebuah pujian, Ibnu ‘Ajibah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu.”serta terdapat ulama yang berkata, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.” [Lihat Iqozhobul Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 59, Mawqi’ Al Qaroq, Asy Syamilah]. Sikapilah pujian dengan baik, jadikanlah pujian sebagai pemacu semangat dalam berhijrah. Jadilah pribadi yang tidak takut dicaci, tidak terpedaya ketika di puji.
Berani Meninggalkan, Berani Menemukan
Dalam berhijrah, akan banyak sekali hal-hal yang harus kita tinggalkan. Tidak hanya meninggalkan masa jahiliyah dan kebiasaan-kebiasaan buruk, seseorang yang telah bertekad pada jalan hijrah harus siap untuk meninggalkan dan ditinggalkan oleh teman-temannya. Seperti sebuah frase yang berbunyi “If you’re not losing friend, so you’re not growing up.” Setiap manusia harus siap untuk kehilangan teman jika ingin dirinya berkembang. Saat kita memutuskan untuk berhijrah, bukan tidak mungkin kita akan menemui teman-teman yang tidak setuju atau bahkan menghalang-halangi langkah kita untuk menjadi lebih baik. Teman seperti itulah yang harus berani kita tinggalkan. Seiring berjalannya waktu, Allah-lah yang akan mempertemukan kita dengan teman sejati yang terus mengiringi langkah kaki kita dalam menempuh perjalanan hijrah. Sungguh besar sekali manfaat seorang teman khususnya bagi umat muslim. Teman ialah cerminan kualitas iman dan agama kita. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, “Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka lihatlah dengan siapa ia berteman.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud). Ibnu al-Qayyim meriwayatkan dari para ulama, 6 sifat dan manfaat bergaul dengan orang salih, yaitu: berpindah dari ragu menjadi yakin, dari riya’ menjadi ikhlas, dari lalai menjadi ingat, dari suka dunia menjadi suka akhirat, dari sombong menjadi tawadhu, dan dari niat yang buruk menjadi nasehat. (Syarh Al-Asbab, hal.146). Maka pantaslah, apabila seseorang memilih meninggalkan teman yang buruk, untuk kemudian bertemu dengan teman-teman shalih yang senantiasa nasehat-menasehati serta semangat-menyemangati.
Selain berani untuk meninggalkan teman, seseorang juga harus berani meninggalkan dirinya di masa lalu. Apabila sebelum berhijrah seseorang terus memikirkan dunianya, berbuat hanya untuk kepentingan duniawi serta mencari-cari kenikmatan dan kesenangan dengan bergantung pada dunia,, maka bersiaplah untuk meninggalkan dirinya dan dunianya. Hakikat hijrah sesungguhnya ialah perjalanan untuk mempersiapkan akhirat. Ainun Emha Najib bahkan pernah berkata, “Jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati.”. Benar. Dunia apabila dikejar, maka ia akan semakin lari. Sedang apabila akhirat itu dikejar, dunia akan mengikuti. Beranikan diri untuk kehilangan kemudian menemukan tujuan hidup sebenarnya. “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.” (HR. Bukhari-Muslim)
Berani Berhijrah, Berani Berdakwah
Puncak dari ilmu adalah menyampaikan. Ilmu yang dimiliki, seberapapun banyaknya, tidak akan berguna apabila tidak membawa kebermanfaatan bagi umat. Dalam hadist riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al-hilyah, Rasulullah saw. bersabda, “Keutamaan orang berilmu dengan ahli ibadah adalah bagaikan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang.”
Dalam rangkaian proses hijrah, ilmu menjadi hal yang paling dicari. Setiap orang akan berbondong-bondong mencari para ustadz/ah maupun para ulama demi mendapatkan ilmu yang semakin menguatkan iman dan islamnya. Pada saat inilah beberapa manusia lalai, bahwa ketika ilmu telah sampai kepadanya, menyampaikan adalah kewajiban bagi dirinya. Dari Amr ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” Dari sini dapat disimpulkan bahwa berdakwah sebagai sarana menyampaikan ilmu merupakan kewajiban bagai seluruh umat muslim.
Dakwah dapat diartikan sebagai kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari’at dan akhlak islam. Seseorang tidaklah harus memiliki ilmu yang mumpuni untuk memulai sebuah dakwah. Dakwah pun tidak terbatas hanya pada mimbar-mimbar. Seseorang yang tersenyum kepada orang lain-pun termasuk dakwah. Dengan hal tersebut, ia telah mengajarkan bahwa sedekah tidak hanya berupa harta. Dakwah berangkat dari hal-hal kecil namun besar sekali dampaknya. Seseorang mungkin akan tergerak hatinya untuk berhijrah ketika kita sampaikan kepadanya kebenaran dan kita mengajaknya kepada kebaikan. Beranilah untuk berdakwah, beranilah untuk menyampaikan meskipun pada saatnya nanti kita tidak pernah tahu respon apa yang akan kita dapat. Tugas setiap umat muslim hanyalah menyampaikan dan Allah-lah yang akan memberi petunjuk kepada hamba yang Ia kehendaki. Hal ini tercantum dalam firman Allah Quran Surah Yasin ayat 16-17 :
“ Mereka berkata: “Rabb Kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu”. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan perintah (Allah) dengan jelas.”
Hijrah adalah perjalanan yang tiada habisnya, hijrah tidak akan berhenti hingga Allah sendiri yang menghentikannya. Sempurnakanlah hijrah dengan menetapkan niat, bahwa perjalanan ini semata hanya untuk menggapai ridho-Nya. Allah tidak pernah menjanjikan hijrah itu akan mudah, namun Allah menjanjikan bahwa hijrah akan berujung indah. Beranikan diri dalam berhijrah, beranilah untuk menjadi lebih baik.

SKI PGSD/PGPAUD UNS

SKI PGSD/PG PAUD merupakan sebuah organisasi tingkat wilayah yang bergerak dalam kegiatan keislaman. Bertempat di kampus IV Kleco, Surakarta. Memiliki pertanggungjawaban kepada SKI FKIP yang bertempat di Kampus Pusat Kentingan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com