[Cerpen] SYUKUR

Karya: Linda P.C (Juara 2 Lomba Cerpen M2B)

 

Pagi ini, masih ditempat ini. Kupaksakan membuka mataku yang berat, jam dinding berbentuk bebek itu menyapaku dengan senyumnya. 06.30 WIB.

“Astagaaa……. Kuliaahhhh!!” teriakku kalap sambil melemparkan selimut tebal yang menutupiku.

Mandi sekedarnya, sarapan roti sekenanya, cus ke kampus. Huuftt… Untung nggak telat. Yaa… Pelajaran yang membosankan segara dimulai. Daripada bosan mending main Instagram aja, liat-liat baju yang lagi hits.

“Fa, hari ini kuliah sampe jam berapa?”

“Gatau, Sha. Dosen belum ngabarin lagi niih. Emang kenapa?”

“Gapapa, bosen aja di kelas. Hehehehe”

Syifa hanya geleng-geleng mendengar jawabanku. Tiba-tiba HP ku bergetar, ada panggilan masuk. Dari nenek. Aku pun segera ijin keluar kelas dan mengangkat telfonnya. Rasa gugup menghantuiku.

“Assalamualaikum, Aisha” sapa nenekku diujung sana.

“Emm… Iya nek, kenapa?”

“Lho.. Kok salamnya nggak dijawab?”

“Iyaa..iyaa.. Waalaikumsallam” jawabku ketus.

“Aisha ngga lupa kan sholatnya? Baca Al-Qur’an tiap malem to?”

“…….”

“Aisha, ingat pesan ibumu nak, hayoo katanya pengen nyenengin ibu… Masa kamu…..”

Tuuutt…tuutt…tuuuttt….. sengaja kuputuskan sambungan telfon itu. Aku muak diingatkan dengan semua masa lalu itu. Hal itu akan membuat seluruh rasa yang sengaja dikubur dalam-dalam kembali membuka. Aku segera masuk ke kelas,

Lima tahun yang lalu, Allah dengan teganya mencuri semua kebahagiaan dalam hidupku. Ayah dan Ibuku meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis. Ya… Hanya tersisa aku seorang. Rasa sedih yang teramat membuatku sadar, Allah sangaatt tidak adil denganku. Nenek bilang, aku beruntung masih punya nenek dan bibi. Tapi apakah dengan adanya mereka bisa menggantikan kedua orang tuaku? Jawabannya jelas TIDAK! Setelah itu, aku hidup semauku sendiri, toh Allah udah nggak sayang sama aku. Tanpa sadar pelajaran sudah selesai, saatnya pulang.

Ciitttt….. Braakkk……..

Didepanku persis, ada sebuah sepeda motor yang menyerempet seorang nenek tua yang membawa keranjang berisi jajanan. Isi dari keranjangnya tumpah semua, si pengendara sepeda motor itu pergi begitu saja.

“Sha, mau kemana?”

“Bentar, Fa. Itu neneknya kasian”

Aku dan Syifa pun segera berlari mendekati si nenek yang sedang membereskan jajanan itu.

“Nenek nggak papa?” tanyaku sambil ikut memunguti jajanan yang sebagian besar adalah roti basah.

“Nggak papa, neng. Makasih yaa” jawab si nenek sambil menangis.

“Nek, kok nangis? Ada yang sakit?” tanya Syifa.

“Engga kok, Neng. Nenek cuman bingung, jualan nenek sudah jatuh semua. Untuk ganti semua dagangan ini bagaimana? Trus nenek bingung nanti cucu nenek makan apa kalo nenek ngga bawa uang.”

“Cucu? Lha anak nenek kemana?”

“Sudah meninggal 1 tahun yang lalu, Neng. Jadi cucu tinggal sama saya”

“Tuh kan nek, Allah nggak adil banget ya, masa nenek yang udah tua dibiarin kerja keras gini, masih ngurus cucunya pula.” Ceplosku.

“Lho, Neng nggak boleh bilang kaya gitu, justru Allah itu baik banget ke nenek. Kalo misal Allah nggak adil, maka Allah nggak bakal nitipin cucu ke nenek. Dengan adanya mereka, nenek seneng banget kok, bisa makan bareng, bisa sholat bareng, bisa ketawa bareng cucu nenek. Setidaknya masa tua nenek tidak sendirian”

Jawaban sang nenek mengagetkanku,

“Tapi nek, tetep aja nggak adil. Buktinya nenek masih ahrus kerja keras gitu, emang uang yang nenek dapet cukup buat bikin nenek bahagia?.”

“Neng, kalo soal rezeki mah udah ada yang ngatur, walaupun kadang ngga cukup, tapi disyukurin aja neng. Rasa syukur itu yang bikin kita bahagia neng, bukan dengan banyaknya harta yang kita miliki.”

Jleebb… Kata-kata itu menusukku. Si nenek pamit pergi, namun sebelum pergi kuserahkan sedikit uang jajanku, nenek itu pun senang sekali sambil terus mendoakanku.

Aku sadar. Ya… Allah adil. Sangat adil untukku, walaupun aku kehilangan kedua orangtuaku, namun Allah masih siapkan orang-orang yang sangat menyayangiku. Harta dan uang yang cukup untukku, juga semua hal yang mendukungku. Aku tidak sendiri, masih ada orang-orang yang peduli denganku. Aku tidak sendiri, ternyata selama ini Allah juga selalu disampingku. Aku tidak sendiri, kasih sayang kedua orang tuaku selalu menyertaiku dari surga. Ternyata hanya rasa syukur yang selalu tidak pernah aku panjatkan. Tidak pernah aku hadirkan, sehingga api kebencian selalu menyelimuti hatiku. Ternyata perintah Allah yang sengaja aku tinggalkan itu adalah penjagaku dari api kebencian dan jalan menuju kedamaian.

Maafkan aku, Ya Allah. Maafkan aku juga, Ayah, Ibu. Atas semua kebencian kepada-Mu selama ini. Atas ketidakmampuanku melihat semua hal indah yang Kau berikan. Atas semuarasa kufurku terhadap Nikmat-Mu.

SKI PGSD/PGPAUD UNS

SKI PGSD/PG PAUD merupakan sebuah organisasi tingkat wilayah yang bergerak dalam kegiatan keislaman. Bertempat di kampus IV Kleco, Surakarta. Memiliki pertanggungjawaban kepada SKI FKIP yang bertempat di Kampus Pusat Kentingan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com