INTERAKSI DENGAN LANDASAN SIFAT SHIDDIQ, SUATU HIJRAH DIRI DALAM BERKOMUNIKASI

Oleh :  Nur Isni Purwinanti  PGSD UNS 2013 (Juara 2 Lomba Esai M2B)

Fenomena seringkali membawa manusia ke dalam suatu budaya. Dari fenomena yang terjadi secara berulang-ulang, manusia akan mengambil nilai darinya. Namun tanpa adanya pemikiran dan pertimbangan yang berlandaskan pengetahuan dan kemanusiaan, manusia takkan dapat memaknai nilai-nilai tersebut.

Hal yang sering dilakukan manusia bisa saja kita anggap sebagai suatu budaya. Namun nilai dari suatu budaya tidak selamanya dijunjung dan sering diaplikasikan menjadi sebuah kebiasaan. Hal tersebut dapat terjadi karena lambat laun nilai yang terkandung dalam suatu budaya itu akan dianggap kurang relevan dan tersisihkan oleh perkembangan yang ada. Begitu pula dalam menjalankan kehidupan, kita tidak pernah bisa terlepas dari orang lain yang silih berganti. Begitu pula dalam menjalankan kehidupan, seseorang tidak pernah bisa terlepas dari orang lain yang silih berganti. Dari hal tersebut, terdapat sebuah keterkaitan antara nilai yang terkandung dalam sebuah kebiasaan dengan lingkungan sekitar yang akan membentuk suatu pola kepribadian seseorang. Dari hal tersebut, secara otomatis sebuah lingkungan akan membentuk suatu pola kepribadian seseorang.

Dalam menjalankan kehidupan, manusia tidak terlepas dari komunikasi. Sebagai sarana dalam berkomunikasi tersebut, manusia membutuhkan bahasa. Melalui bahasa manusia dapat menyampaikan apa yang dimaksudkan kepada orang lain baik mengenai apa yang ia rasakan dan apa saja yang ia pikirkan.

Banyak cara yang dapat dilakukan manusia dalam berkonmunikasi dengan orang lain. Melalui indra pengecapan, manusia dapat berucap dan bercakap-cakap secara langsung dengan lawan bicaranya. Selain itu, terdapat cara lain dalam berkomunikasi, yakni melalui tulisan. Dalam kehidupan di abad ke-21 ini, manusia dapat dengan mudahnya saling berkomunikasi baik dalam jarak dekat maupun jarak jauh. Dunia seakan tak memisahkan seseorang dengan orang lain karena adanya teknologi. Melalui telepon, voice mail dan skype misalnya, tanpa harus menunggu untuk bersua, orang-orang sudah bisa bercakap-cakap layaknya beradu muka. Begitu pula dengan komunikasi secara tertulis. Sudah banyak sekali koran, majalah, tabloid atau media sosial lainnya yang dapat menghubungkan kita dengan dunia luar sehingga manusia semakin tahu apa yang terjadi di luar sana.

Seolah tak ada lagi yang perlu dirisaukan dalam dunia yang serba modern ini. Semua berita yang ada dengan mudahnya diakui sebagai berita yang sangat menjanjikan karena cepat dan hangat. Padahal, ada satu sisi yang terlupakan dalam hal ini. Satu sisi yang menimbulkan pertanyaan implisit yakni; “Apakah berita yang didapatkan mengandung manipulasi?”. Ini merupakan hal yang sama sekali tidak diketahui oleh konsumen informasi.

Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur (shiddiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan  membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab).” (HR. al-Bukhari).

Shiddiq yang berasal dari kata shidq  (kebenaran) seharusnya menjadi suatu landasan yang kokoh dalam dunia komunikasi kita saat ini. Sering kali kita mengabaikan hal-hal yang terkandung dari shiddiq tersebut yang akan menimbulkan “keabu-abuan” terhadap apa yang kita bicarakan pada orang lain.

Dalam bidang pendidikan, masih banyak pula terdapat komunikasi yang kurang sehat antar warga instansi tersebut. Hal yang paling dekat yang dapat kita amati yakni kehidupan kita sehari-hari dalam dunia kampus. Banyak interaksi-interaksi kecil yang notabene “abu-abu” dalam dunia kampus. Maraknya komunikasi-komunikasi yang mengandung “gombalan”, meme-meme, maupun jokes-jokes harus diwaspadai akhir-akhir ini. Tanpa disadari, terkadang hal-hal tersebut mengandung arti yang membuat hati orang lain menjadi terluka. Mungkin memang pada awalnya hanya bersifat menghibur, namun hal ini sebaikya dikontrol. Apalagi jika berkaitan dengan pembahasan kekurangan atau keburukan orang lain, jika tidak jeli hal ini akan menjadi berbeda tipis sekali dengan menggunjing.

Akhir-akhir ini, banyak sekali cara-cara dalam dunia pergaulan. Salah satu diantaranya adalah “nggombal”. Seringkali dalam nggombal tersebut diteruskan dengan membandingkan.

Coba kita tinjau dengan seksama makna dari kata shidq atau shiddiq (kebenaran atau kejujuran). Merujuk pada Marzuki1, dalam kata shidq, sifat pertama yang dapat terpancar yakni ‘benar dalam perkataan’. Hal ini menunjukkan bahwa Allah telah memberikan rambu yang jelas dalam berkomunkasi. Namun sayangnya, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, nilai-nilai ini lama-lama tergores dan ditinggalkan oleh karena adanya perkembangan model berkomunikasi yang kini cenderung “asal bisa membuat orang lain tertawa”.

Begitu pula dalam bidang pendidikan, Seringkali kita menyelamatkan diri sendiri dengan mengkliam karya orang lain adalah milik kita. Suatu kasus yang sering dijumpai adalah merebut ide maupun gagasan orang lain tentang suatu rencana yang selanjutknya di klaim bahwa hal itu merupakan wujud dari gagasannya sendiri. Miris sekali. Kasus lain, banyak pula mahasiswa yang berbohong pada guru sedemikian caranya sehingga sang guru mempercayai bahwa apa yang dikatakan muridnya adalah benar.

Hal-hal sepele yang seperti itulah yang diam-diam menjadi tabungan bagi kita. Tanpa disadari, dosa maupun pahala terakumulasi dari kegiatan-kegiatan tiap hari yang terus bertambah sesuai bertambahnya waktu. Apabila hal-hal sepele tersebut kita bangun dengan meletakkan shiddiq sebagai landasan dalam hal kecil khususnya berkomunikasi, itu merupakan hal yang bagus. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya? Wallahu ‘alam bis shawab.

Contoh lain yang bisa diamati yakni dalam dunia perdagangan. Seringkali dalam sebuah promosi, sang penjual mengatakan bahwa barang tersebut akan awet atau bertahan lama. Padahal sesungguhnya kualitas yang ditawarkan itu tidak seperti apa yang dikatakan. Ini menujukkan rendahnya pencerminan sifat jujur yang pertama yakni benar dalam perkataan.

Mengingat pentingnya menerapkan sifat shiddiq yang petama tadi, marilah kita sama-sama bermuhasabah dengan melihat masa lalu kita selama ini. Sudah berapa kali kita mengabaikan hal ini? Bayangkan saja jika satu hari kita meninggalkan aturan ini, maka satu hari kita sudah terhitung melakukan satu kesalahan. Bagaimana bila kita melakukan kesalahan itu setiap hari? Akan ada berapa kesalahan di kali tiga ratus enam puluh lima hari yang telah kita lewati dalam hidup kita ini selama ini?

Paparan di atas mempunyai benang merah terhadap kebiasaan kita. Mengingat   sifat shiddiq yang selanjutnya setelah benar dalam perkataan yakni benar dalam pergaulan, kemauan, berjanji dan kenyataan. Sudah selayaknya seorang muslim menempatkan interaksi yang berlandaskan kejujuran dalam komunikasi karena nantinya akan menentukan kenyataan yang terbangun di dalamnya. Mulailah interaksi kecil seperti bercanda dengan teman, berbicara dengan guru maupun dengan masyarakat dengan berlandaskan sifat shiddiq agar terbangunnya sebuah budaya komunikasi yang jujur dimana selama ini timbul tenggelam keberadaanya.

Karena sebagai manusia tidak bisa terlepas dari suatu komunikasi, maka sudah sewajarnyalah manusia memegang sifat shiddiq dalam berinteraksi. Sifat shiddiq dalam berkomunikasi dapat menjaga diri seseorang dari terjerumusnya ke dalam jalan yang salah seperti menggunjing. Banyak perihal yang harus kita amati di berbagai lini komunikasi belakangan ini. Jangan sampai kita, khususnya kaum mahasiswa, terjebak dan terjerat bahkan menjadi salah satu sumber berita yang salah dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan, berapa banyak dosa yang kita timbun jika dari segi berinteraksi saja kita telah mengesampingkan hal-hal yang pokok? Semoga upaya kita membangun interaksi berlandaskan sifat shidddiq dalam berkomunikasi tergolong dalam amalan sebuah hijrah karena Lillah.

SKI PGSD/PGPAUD UNS

SKI PGSD/PG PAUD merupakan sebuah organisasi tingkat wilayah yang bergerak dalam kegiatan keislaman. Bertempat di kampus IV Kleco, Surakarta. Memiliki pertanggungjawaban kepada SKI FKIP yang bertempat di Kampus Pusat Kentingan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com